Rabu, 13 Januari 2016

analisa unsur kebudayaan

ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN MASYARAKAT PEKALONGAN


Description: G:\logo-unnes.png






Disusun oleh : Arif Aji Fadilah
NIM             : 1201415056    

PENDIDIKAN NON FORMAL
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG



KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya dan makalah ini berjudul “ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN MASYARAKAT PEKALONGAN”.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pohak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.








Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pekalongan merupakan salah satu kota di jawa tengah yang dikenal berbagai kebudayaan. Begitu banyak orang menyebutkan pekalongan sebagai kota batik. Namun dibalik itu semua banyak sekali unsur yang mendorong kebudayaan di Pekalongan.
Berbagai etnis dan budaya ada di Pekalongan.Muali dari jawa, Madura, Arab, Cina dan Lain sebagainya. Di Pekalongan sangat kental dengan unsur religiusnya sehingga dijuluki dengan kota Santri untuk wilayah Kabupatennya. Keberagaman unsur ini akan berpengaruh pada kondisi kehidupan masyarakat disekitarnya.
1.2.    Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu mempelajari Masyarakat Pekalongan ini adalah agar kita dapat mengetahui seluk beluk kehidupan dari masyarakat Pekalongan itu sendiri dan juga tidak terlepas dari bagaimana cara mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekeliling baik dalam satu lingkunagn.
Kita juga dapat mengetahui bagaimana pola hidup dan juga pola pikir dalam Masyarakat Pekalongan, selain itu pula kita dapat melihat hasil-hasil karya sastra yang terdapat di Masyarakat Pekalongan yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sekarang telah menjadi ciri khas bagi masyarakat dan Masyarakat Pekalongan tersebut. Saya akan membuat lebih rinci lagi apa saja yang akan menjadi bahasan-bahasan mengenai Masyarakat Pekalongan, yang telah di buat dalam rumusan masalah sebagai berikut:
1.3.    Rumusan Masalah



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 7 Unsur kebudayaan Masyarakat Pekalongan

1.      UNSUR BAHASA
Bahasa Jawa Pekalongan atau Dialek Pekalongan adalah salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat), Weleri (bagian timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan).Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun "komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga sulit dimengerti.
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram.Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. Dialek Pekalongan baku zaman itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan zaman sekarang.Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang bekerja menjadi juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan tetap menggunakan dialek tersebut yang mudah dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan, mewujudkan tersebarnya dialek ini.
Meskipun dialek Pekalongan banyak menggunakan kosakata yang sama dengan Dialek Tegal, misalnya: bae, nyong, manjing, kaya kuwe, namun pengucapannya tak begitu "kental" melainkan lebih "datar" dalam pengucapannya.Ada lagi perbedaan lainnya, contohnya menggunakan pengucapan: ri, ra, po'o, ha'ah pok, lha, ye.Demikian pula adanya istilah yang khas, seperti: Kokuwe artinya "sepertimu", Tak nDangka'i artinya "aku kira", Jebhul no'o artinya "ternyata", Lha mbuh artinya "tidak tau", Ora dermoho artinya "tak sengaja", Wegah ah artinya "tak mau", Nghang priye artinya "bagaimana", Di Bya bae ra artinya "dihadapi saja", dan masih banyak lainnya.
Dialek Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek daerah lain dan bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa Pekalongan lebih dikenal sebagai bahasa lisan, namun Harian Suara Merdeka memiliki kolom tulisan berbahasa Pekalongan yang dimuat secara mingguan di edisi Suara Pantura, dengan tajuk berjudul Warung Megono.
2.      UNSUR RELIGI
Pekalongan memiliki ciri budaya yang agamanis yaitu banyak mengaitkan dengan keagamaan muslim. Di Pekalongan budaya yang ada sudah memiliki campuran dengan budaya lain. Sperti budaya Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.
Pekalongan merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau Jawa. Tidak heran tokoh Islam yang berpengaruh dan dimakamkan di Kota Pekalongan.Salah satunya adalah Sayid Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Atas beliau adalah seorang Ulama Besar yang semasa hidupnya Sangat berjasa dalam merintis pendirian Pondok Pesantren di Pulau Jawa.Makam beliau terletak di Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, sekitar 1000 Meter dari terminal bus Kota Pekalongan.Di Komplek Pemakaman juga terdapat Masjid Tua bernama ’MASJID AULIA” yang dibangun pada tahun 1.113/ 1714 Masehi.
Para pengunjung adalah mereka yang ingin melakukan ritual ziarah makam, biasanya datang pada hari Kamis dan Jum’at. Jumlah pengunjung mencapai puncaknya setiap tanggal 14 Sya’ban/ Ruwah dimana diadakan acara Sya’banan atau lebih dikenal dengan istilah “KHOL” , ziarah makam dibuka untuk umum setiap hari, pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jumlah pengunjung makam sulit untuk diketahui secara pasti, pada setiap Khol jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Fasilitas yang tersedia bagi pengunjung di komplek makam ini adalah lahan parkir cukup luas, Masjid, Penginapan, Rumah Makan, Pedagang Souvenir, Batik dan lain-lain. §adapun silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut: KH. Abdullah Sirodj Putera RA Martoloyo putera Amir Zahid Sulaiman putera R.Tjondrodimerto putera R. Surodimejo putera Kyai Bahurekso putera Kyai Ageng Tjempluk putera Pangeran Nowo Putera Pangeran Haryo Mangor putera Waliyullah Abdul Muhyi Pamijahan. Beliau wafat di magelang sedang makam beliau terletak dikompleks pemakaman Masjid Payaman Magelang, yang hingga kini makamnya masih banyak dikunjungi peziarah dari segenap penjuru tanah air, khusunya Jawa Tengah, baik pagi, siang, sore ataupun malam hari sepanjang tahun. Adapun Khoulnya bertepatan dengan Syawalan disini (Kota Pekalongan), yaitu tanggal 8 syawal tahun hijriyah
Budaya upacara adat syawalan melatarbelakangi nilai nilai sosial diantaranya seperti masyarakat sekitar membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari manca desa maupun manca kota, mereka saling bersilahturahmi, saling mengenal satu sama lain, tidak hanya nilai sosialnya, tapi juga ada nilai sejarahnya, upacara adat syawalan di pekalongan dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Hadroh Merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Jidor sebagai alat musiknya.Kesenian ini beranggotakan 15 orang sampai 20 orang dengan diiringi musik mereka melantunkan puji - pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhirat pada Allah SWT.§Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara hajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Sedangkan dalam kelompok Samproh, seluruh pesertanya adalah perempuan dengan jumlah yang sama.
3.      UNSUR MATA PENCAHARIAN
Mata pencaharian pokok penduduk Pekalongan ialah pembatikan dan pertekstilan yang banyak dilakukan oleh orang Jawa, Cina dan Arab.Pembatikan merupakan bagian yang terbesar, baik jumlah perusahaannya maupun produksinya.Pekalongan memang sangat terkenal dengan kerajinan batiknya. Sentra kerajinan batik ini tersebar di wilayah kota dan kabupaten Pekalongan. Menurut Departemen perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah tahun 1999 tercatat terdapat 16 sentra batik di wilayah kodya dengan jumlah unit usaha sebanyak 476 unit usaha, dan 19 sentra batik di wilayah kabupaten Pekalongan dengan jumlah usaha sebanyak 670 unit usaha.
Dari data di atas terlihat bahwa potensi industri kerajinan batik kota Pekalongan menempati posisi kedua setelah Kota Surakarta. Selain dikenal dengan pusat industri kerajinan batik di wilayah pantai utara Jawa, Pekalongan juga dikenal dengan kerajinan tenun tradisional dengan mempergunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Batik yang dihasilkan Pekalongan berdasarkan pembuatannya terdiri dari batik tulis, batik cap, batik printing dan batik kombinasi. Batik tulis saat ini terdapat di Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.
Selain memiliki beragam corak batik yang berkualitas, Kabupaten Pekalongan juga memiliki beragam menu makanan tradisional yang potensi bisnisnya juga cukup besar. Misalnya saja seperti sego megono (nasi dicampur dengan megono yang terbuat dari nangka muda dicampur dengan parutan kelapa), garang asem (sajian berkuah dengan irisan daging kerbau di dalamnya), sauto (campuran antara soto dengan tauco), serta masih banyak lagi lainnya. Beberapa makanan tersebut menjadi salah satu potensi yang sering dijadikan sebagai peluang usaha oleh masyarakat Pekalongan. Baik dijajakan di pinggiran jalan, maupun diangkat di beberapa restoran yang ada di kota batik ini.
Berada di daerah pesisir pantai membuat Pekalongan memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang melimpah. Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara yang berlokasi di kelurahan Panjang Wetan, budidaya ikan tambak yang berpusat di tiga kecamatan yaitu Tirto, Wonokerto, dan Siwalan, serta budidaya ikan kolam yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Pekalongan. Menjadi bukti nyata bahwa setiap tahunnya kota Pekalongan berhasil memproduksi ratusan ribu ton ikan, dan dipasarkan dalam keadaan segar maupun diolah menjadi berbagai macam produk olahan ikan yang bernilai tinggi. Contohnya saja menjadi produk olahan teri, ikan asin, ikan pindang, ikan panggang, terasi serta bandeng presto.

Disamping produk perikanan, daerah Panjang Wetan Pekalongan juga mengolah produk rumput laut yang cukup melimpah di daerah tersebut.Setiap tahunnya para petani rumput laut dapat mengolah ratusan hingga ribuan ton, dan dipasarkan di pasar lokal maupun pasar internasional.
Potensi Bisnis Hasil Ternak Sampai saat ini sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pekalongan masih mengandalkan sektor peternakan sebagai salah satu sumber mata pencaharian mereka.Jenis ternak yang cukup berpotensi adalah sapi dan kerbau.Tingginya nilai ekomoni yang dihasilkan dari ternak sapi dan kerbau, membuat hampir setiap kecamatan di Pekalongan mengembangkan hewan tersebut hingga ratusan bahkan ribuan ekor.Beberapa kecamatan yang menjadi daerah unggulan di bidang ternak antara lain Kajen, Kandangserang, Kesesi, Karangdadap, Sragi, dll.
Potensi Bisnis Agribisnis Meskipun berada di jalur pantura yang sebagian besar wilayahnya berupa pinggiran pantai, namun Pekalongan merupakan daerah tropis yang memiliki potensi agribisnis berupa buah dan sayur yang cukup produktif.Potensi yang dihasilkan seperti buah-buahan (durian, manggis, rambutan, sawo, melon), sayur-sayuran (kol, kentang, cabe), kopi, cengkeh, dan masih banyak lagi pohon kayu yang memiliki harga jual cukup tinggi.
4.      UNSUR KESENIAN
Ada banyak kesenian tradisional yang berasal dari Pekalongan.Ada seni tari, seni musik, seni drama, seni lukis, dan sebagainya.Di sini aku sebutkan beberapa di antaranya, yakni Simtudduror, sintren dan tentu saja seni batik.
            Simtudduror, atau biasa disebut duroran merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan rebana dan jidor sebagai alat musiknya.

Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran pada Allah SWT.Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah Agama.
Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari.Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib.Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak).
            Batik merupakan produk asli Indonesia dan merupakan kebudayaan asli kita. Sungguh membuat hati ini menjadi resah ketika tiba-tiba ada negara lain yang mengklaim kesenian batik sebagai budaya mereka. Sungguh negara yang tidak tahu malu mengaku-aku kebudayaan negara lain sebagai miliknya. Dilihat dari segi manapun terlihat jelas bahwa kesenian batik milik republik tercinta ini.Hanya karena kita belum mempatenkannya.
5.      UNSUR ORGANISASI SOSIAL
Masyarakat pedesaan memiliki ikatan kekerabatan yang erat satu dengan yang lain. Ikatan kekerabatan tidak hanya berlaku untuk orang yang memiliki ikatan darah, berhubungan dalam kehidupan sehari-hari.Hal yang menjadikan eratnya kekerabatan pada masyarakat pedesaan adalah adanya kegiatan-kegiatan yang menyatukan mereka, seperti halnya tradisi, pengajian, dan kegiatan-kegiatan lainnya.Terjadinya hal yang demikian dikarenakan masyarakat pedesaan bersifat homogen.Mereka memiliki banyak kesamaan, di antaranya adalah kesamaan mata pencaharian, status sosial, asal daerah, nenek moyang, dan sebagainya.Selain itu, besarnya ketergantungan dengan alam turut menambah eratnya hubungan kekerabatan masyarakat pedesaan untuk mengatasai gejala-gejala alam yang mengalami perubahan secara tak menentu.
Eratnya ikatan kekerabatan pada masyarakat pedesaan menumbuhkan rasa kepedulian antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain. Mereka saling melengkapi satu dengan yang lain. Jika terdapat anggota masyarakat yang mengalami kesulitan maka anggota masyarakat yang lain tak sungkan untuk membantu. Begitu juga jika terdapat anggota masyarakat yang sedang mendapatkan kebahagiaan maka dia akan berbagi kebahagian dengan anggota masyarakat yang lain, seperti berbagi makanan, barang, dan lainnya. Oleh karena itu hubungan yang baik antar sesama manusia pada masyarakat pedesaan –terutama masyarakat Jawa– sangatlah penting.Mereka menjunjung tinggi konsep rukun, isin, dan urmat.Hingga pada masyarakat Jawa terdapat pula semboyan “mangan ora mangan asal kumpul”.
Eratnya ikatan kekerabatan pada masyarakat pedesaan yang memunculkan aktifitas saling tolong menolong, menimbulkan adanya resiprositas yang secara sederhana adalah pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok
6.      UNSUR PERALATAN DAN TEKNOLOGI
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) merupakan alat untuk melakukan penenunan  yang ada di Pekalongan penenunan yang digerakkan oleh manusia. ATBM dapat dipergunakan sambil duduk di lantai maupun di atas bangku (biasa pada industri tekstil kecil dan tradisional).
ATBM yang digunakan dengan duduk dilantai (kiri); ATBM yang digunakan dengan duduk di bangku (kanan)
Pada tahun 1970 pemerintah memberi bantuan berupa Alat Tenun Mesin (ATM) yang tidak membutuhkan penenun akibatnya harga kain lebih murah. Para penenun dan pengusaha tenun ATBM pun kolaps karena tidak bisa menyaingi harga kain ATM. Oleh karena daya saing yang tinggi dengan kain ATM serta sedikitnya penghasil dan pengelola kain  batik  pekalongan  khususnya, maka menjadi peluang untuk membuka usaha tersebut dan juga merupakan usaha untuk melestarikan kebudayaan yang sudah mulai dilupakan masyarakat.
7.      UNSUR SISTEM PENGETAHUAN
Tingkat Pendidikan Masyarakat pekalongan sudah dibilang baik dibuktikan dengan adanya beberapa sekolahan yang memiliki fasilitas yang tergolong standar internasional.  Kesadaran masyarakat Pekalongan akan pendidikan juga sudah dapat dikatakan baik. Batik sebagai salah satu hasil kesenian masyarakat pekalongan dikembangkan dengan kreasi masyarakat pekalongan yang memiliki pengetahuan tentang industri kreatif sehingga memunculkan produk yang inovatif dan dan memiliki daya saing Yang tinggi.
                                                                       




               







BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa masyarakat pekalongan ini adalah suku yang memang sangat kental dengan unsur budayanya, selain itu juga masyarakat pekalongan terkenal dengan kuliner dan hasil budaya yang memang masih disimpan baik di dalam masyarakat pekalongan tersebut.
3.2. Saran
Saran yang dapat saya berikan adalah kita harus mengetahui bermacam-macam suku yang ada di Indonesia bukan hanya masyarakat pekalongan tetapi masih banyak suku-suku yang lainya. Mengenai masyarakat pekalongan sendiri kita harus bisa lebih mengembangkan suku yang kita miliki dari sejak lahir, contohnya saja dalam berbahasa, kita harus bisa menguasai bahasa dalam suku kita kalaupun misalkan kita tidak bisa menggunakan bahasa itu dengan baik, kita harus bisa memahami makna dan maksudnya sedikit saja.



DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                





0 komentar:

Posting Komentar