ANALISA
UNSUR KEBUDAYAAN MASYARAKAT PEKALONGAN

Disusun
oleh : Arif Aji Fadilah
NIM
: 1201415056
PENDIDIKAN
NON FORMAL
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum.Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan kita rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya dan
makalah ini berjudul “ANALISA UNSUR KEBUDAYAAN MASYARAKAT PEKALONGAN”.
Kami menyadari bahwa
makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, kami
ucapkan terima kasih kepada semua pohak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala urusan kita, Amin.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pekalongan merupakan salah satu kota di jawa tengah
yang dikenal berbagai kebudayaan. Begitu banyak orang menyebutkan pekalongan
sebagai kota batik. Namun dibalik itu semua banyak sekali unsur yang mendorong
kebudayaan di Pekalongan.
Berbagai etnis dan budaya ada di Pekalongan.Muali
dari jawa, Madura, Arab, Cina dan Lain sebagainya. Di Pekalongan sangat kental
dengan unsur religiusnya sehingga dijuluki dengan kota Santri untuk wilayah
Kabupatennya. Keberagaman unsur ini akan berpengaruh pada kondisi kehidupan
masyarakat disekitarnya.
1.2. Tujuan
Tujuan
dalam makalah ini yaitu mempelajari Masyarakat Pekalongan ini adalah agar kita
dapat mengetahui seluk beluk kehidupan dari masyarakat Pekalongan itu sendiri
dan juga tidak terlepas dari bagaimana cara mereka beradaptasi dan berinteraksi
dengan masyarakat sekeliling baik dalam satu lingkunagn.
Kita
juga dapat mengetahui bagaimana pola hidup dan juga pola pikir dalam Masyarakat
Pekalongan, selain itu pula kita dapat melihat hasil-hasil karya sastra yang
terdapat di Masyarakat Pekalongan yang sudah ada sejak zaman dahulu dan
sekarang telah menjadi ciri khas bagi masyarakat dan Masyarakat Pekalongan
tersebut. Saya akan membuat lebih rinci lagi apa saja yang akan menjadi
bahasan-bahasan mengenai Masyarakat Pekalongan, yang telah di buat dalam
rumusan masalah sebagai berikut:
1.3. Rumusan Masalah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
7 Unsur kebudayaan Masyarakat Pekalongan
1.
UNSUR
BAHASA
Bahasa Jawa Pekalongan atau Dialek Pekalongan adalah salah satu
dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara
tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota
Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek Pekalongan
termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat), Weleri
(bagian timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan).Dialek
Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun
"komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda
dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan
Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti,
sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga
sulit dimengerti.
Pada abad ke-15
hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram.Awalnya dialek
Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan
Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek
Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. Dialek
Pekalongan baku zaman itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan
zaman sekarang.Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang bekerja menjadi
juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan tetap menggunakan dialek tersebut yang
mudah dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan, pedagang juga para
nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan, mewujudkan tersebarnya dialek
ini.
Meskipun dialek
Pekalongan banyak menggunakan kosakata yang sama dengan Dialek Tegal, misalnya:
bae, nyong, manjing, kaya kuwe, namun pengucapannya tak begitu
"kental" melainkan lebih "datar" dalam pengucapannya.Ada
lagi perbedaan lainnya, contohnya menggunakan pengucapan: ri, ra, po'o, ha'ah
pok, lha, ye.Demikian pula adanya istilah yang khas, seperti: Kokuwe artinya
"sepertimu", Tak nDangka'i artinya "aku kira", Jebhul no'o
artinya "ternyata", Lha mbuh artinya "tidak tau", Ora
dermoho artinya "tak sengaja", Wegah ah artinya "tak mau",
Nghang priye artinya "bagaimana", Di Bya bae ra artinya
"dihadapi saja", dan masih banyak lainnya.
Dialek Pekalongan
asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan,
sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek daerah lain dan
bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa Pekalongan lebih dikenal sebagai bahasa lisan,
namun Harian Suara Merdeka memiliki kolom tulisan berbahasa Pekalongan yang
dimuat secara mingguan di edisi Suara Pantura, dengan tajuk berjudul Warung
Megono.
2.
UNSUR RELIGI
Pekalongan
memiliki ciri budaya yang agamanis yaitu banyak mengaitkan dengan keagamaan
muslim. Di Pekalongan budaya yang ada sudah memiliki campuran dengan budaya
lain. Sperti budaya Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.
Pekalongan
merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau
Jawa. Tidak heran tokoh Islam yang berpengaruh dan dimakamkan di Kota
Pekalongan.Salah satunya adalah Sayid Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Atas
beliau adalah seorang Ulama Besar yang semasa hidupnya Sangat berjasa dalam
merintis pendirian Pondok Pesantren di Pulau Jawa.Makam beliau terletak di
Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, sekitar 1000 Meter
dari terminal bus Kota Pekalongan.Di Komplek Pemakaman juga terdapat Masjid Tua
bernama ’MASJID AULIA” yang dibangun pada tahun 1.113/ 1714 Masehi.
Para pengunjung
adalah mereka yang ingin melakukan ritual ziarah makam, biasanya datang pada
hari Kamis dan Jum’at. Jumlah pengunjung mencapai puncaknya setiap tanggal 14
Sya’ban/ Ruwah dimana diadakan acara Sya’banan atau lebih dikenal dengan
istilah “KHOL” , ziarah makam dibuka untuk umum setiap hari, pengunjung datang
dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam.
Jumlah pengunjung makam sulit untuk diketahui secara pasti, pada setiap Khol
jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Fasilitas yang tersedia bagi
pengunjung di komplek makam ini adalah lahan parkir cukup luas, Masjid,
Penginapan, Rumah Makan, Pedagang Souvenir, Batik dan lain-lain. §adapun
silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut: KH. Abdullah Sirodj Putera RA
Martoloyo putera Amir Zahid Sulaiman putera R.Tjondrodimerto putera R.
Surodimejo putera Kyai Bahurekso putera Kyai Ageng Tjempluk putera Pangeran
Nowo Putera Pangeran Haryo Mangor putera Waliyullah Abdul Muhyi Pamijahan.
Beliau wafat di magelang sedang makam beliau terletak dikompleks pemakaman
Masjid Payaman Magelang, yang hingga kini makamnya masih banyak dikunjungi
peziarah dari segenap penjuru tanah air, khusunya Jawa Tengah, baik pagi,
siang, sore ataupun malam hari sepanjang tahun. Adapun Khoulnya bertepatan
dengan Syawalan disini (Kota Pekalongan), yaitu tanggal 8 syawal tahun hijriyah
Budaya upacara
adat syawalan melatarbelakangi nilai nilai sosial diantaranya seperti
masyarakat sekitar membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari
manca desa maupun manca kota, mereka saling bersilahturahmi, saling mengenal
satu sama lain, tidak hanya nilai sosialnya, tapi juga ada nilai sejarahnya,
upacara adat syawalan di pekalongan dimulai sejak 130-an tahun yang lalu,
tepatnya pada tahun 1855 M. kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini
adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Hadroh Merupakan
kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Jidor
sebagai alat musiknya.Kesenian ini beranggotakan 15 orang sampai 20 orang
dengan diiringi musik mereka melantunkan puji - pujian atau sholawatan sebagai
ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhirat pada Allah SWT.§Kesenian
ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara hajatan atau selamatan yang
diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan
ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Sedangkan dalam kelompok Samproh,
seluruh pesertanya adalah perempuan dengan jumlah yang sama.
3. UNSUR MATA PENCAHARIAN
Mata pencaharian
pokok penduduk Pekalongan ialah pembatikan dan pertekstilan yang banyak
dilakukan oleh orang Jawa, Cina dan Arab.Pembatikan merupakan bagian yang
terbesar, baik jumlah perusahaannya maupun produksinya.Pekalongan memang sangat
terkenal dengan kerajinan batiknya. Sentra kerajinan batik ini tersebar di
wilayah kota dan kabupaten Pekalongan. Menurut Departemen perindustrian dan
Perdagangan Jawa Tengah tahun 1999 tercatat terdapat 16 sentra batik di wilayah
kodya dengan jumlah unit usaha sebanyak 476 unit usaha, dan 19 sentra batik di
wilayah kabupaten Pekalongan dengan jumlah usaha sebanyak 670 unit usaha.
Dari data di atas
terlihat bahwa potensi industri kerajinan batik kota Pekalongan menempati
posisi kedua setelah Kota Surakarta. Selain dikenal dengan pusat industri
kerajinan batik di wilayah pantai utara Jawa, Pekalongan juga dikenal dengan
kerajinan tenun tradisional dengan mempergunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Batik yang dihasilkan Pekalongan berdasarkan pembuatannya terdiri dari batik
tulis, batik cap, batik printing dan batik kombinasi. Batik tulis saat ini
terdapat di Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.
Selain memiliki
beragam corak batik yang berkualitas, Kabupaten Pekalongan juga memiliki
beragam menu makanan tradisional yang potensi bisnisnya juga cukup besar.
Misalnya saja seperti sego megono (nasi dicampur dengan megono yang terbuat
dari nangka muda dicampur dengan parutan kelapa), garang asem (sajian berkuah
dengan irisan daging kerbau di dalamnya), sauto (campuran antara soto dengan
tauco), serta masih banyak lagi lainnya. Beberapa makanan tersebut menjadi
salah satu potensi yang sering dijadikan sebagai peluang usaha oleh masyarakat
Pekalongan. Baik dijajakan di pinggiran jalan, maupun diangkat di beberapa
restoran yang ada di kota batik ini.
Berada di daerah
pesisir pantai membuat Pekalongan memiliki sumber daya perikanan dan kelautan
yang melimpah. Adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara yang berlokasi di kelurahan
Panjang Wetan, budidaya ikan tambak yang berpusat di tiga kecamatan yaitu
Tirto, Wonokerto, dan Siwalan, serta budidaya ikan kolam yang tersebar di
seluruh kecamatan yang ada di Pekalongan. Menjadi bukti nyata bahwa setiap
tahunnya kota Pekalongan berhasil memproduksi ratusan ribu ton ikan, dan
dipasarkan dalam keadaan segar maupun diolah menjadi berbagai macam produk
olahan ikan yang bernilai tinggi. Contohnya saja menjadi produk olahan teri,
ikan asin, ikan pindang, ikan panggang, terasi serta bandeng presto.
Disamping produk
perikanan, daerah Panjang Wetan Pekalongan juga mengolah produk rumput laut
yang cukup melimpah di daerah tersebut.Setiap tahunnya para petani rumput laut
dapat mengolah ratusan hingga ribuan ton, dan dipasarkan di pasar lokal maupun
pasar internasional.
Potensi Bisnis
Hasil Ternak Sampai saat ini sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pekalongan
masih mengandalkan sektor peternakan sebagai salah satu sumber mata pencaharian
mereka.Jenis ternak yang cukup berpotensi adalah sapi dan kerbau.Tingginya
nilai ekomoni yang dihasilkan dari ternak sapi dan kerbau, membuat hampir
setiap kecamatan di Pekalongan mengembangkan hewan tersebut hingga ratusan
bahkan ribuan ekor.Beberapa kecamatan yang menjadi daerah unggulan di bidang
ternak antara lain Kajen, Kandangserang, Kesesi, Karangdadap, Sragi, dll.
Potensi Bisnis
Agribisnis Meskipun berada di jalur pantura yang sebagian besar wilayahnya
berupa pinggiran pantai, namun Pekalongan merupakan daerah tropis yang memiliki
potensi agribisnis berupa buah dan sayur yang cukup produktif.Potensi yang
dihasilkan seperti buah-buahan (durian, manggis, rambutan, sawo, melon),
sayur-sayuran (kol, kentang, cabe), kopi, cengkeh, dan masih banyak lagi pohon
kayu yang memiliki harga jual cukup tinggi.
4. UNSUR KESENIAN
Ada banyak kesenian tradisional
yang berasal dari Pekalongan.Ada seni tari, seni musik, seni drama, seni lukis,
dan sebagainya.Di sini aku sebutkan beberapa di antaranya, yakni Simtudduror,
sintren dan tentu saja seni batik.
Simtudduror, atau biasa disebut duroran
merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan rebana
dan jidor sebagai alat musiknya.
Kesenian ini beranggotakan antara
15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau
sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran
pada Allah SWT.Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan
atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang
terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah Agama.
Sintren adalah kesenian tradisional
masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau
mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono.
Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil
perkawinannya dengan Dewi Rantamsari.Raden Sulandono memadu kasih dengan
Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak
mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan
Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya
masih terus berlangsung melalui alam goib.Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi
Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R.
Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan
terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah
setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari
oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari
betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sintren diperankan seorang
gadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang
sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan
penari pendamping dan bador (lawak).
Batik merupakan produk asli Indonesia
dan merupakan kebudayaan asli kita. Sungguh membuat hati ini menjadi resah
ketika tiba-tiba ada negara lain yang mengklaim kesenian batik sebagai budaya
mereka. Sungguh negara yang tidak tahu malu mengaku-aku kebudayaan negara lain
sebagai miliknya. Dilihat dari segi manapun terlihat jelas bahwa kesenian batik
milik republik tercinta ini.Hanya karena kita belum mempatenkannya.
5. UNSUR ORGANISASI SOSIAL
Masyarakat
pedesaan memiliki ikatan kekerabatan yang erat satu dengan yang lain. Ikatan
kekerabatan tidak hanya berlaku untuk orang yang memiliki ikatan darah,
berhubungan dalam kehidupan sehari-hari.Hal yang menjadikan eratnya kekerabatan
pada masyarakat pedesaan adalah adanya kegiatan-kegiatan yang menyatukan
mereka, seperti halnya tradisi, pengajian, dan kegiatan-kegiatan
lainnya.Terjadinya hal yang demikian dikarenakan masyarakat pedesaan bersifat
homogen.Mereka memiliki banyak kesamaan, di antaranya adalah kesamaan mata
pencaharian, status sosial, asal daerah, nenek moyang, dan sebagainya.Selain
itu, besarnya ketergantungan dengan alam turut menambah eratnya hubungan
kekerabatan masyarakat pedesaan untuk mengatasai gejala-gejala alam yang
mengalami perubahan secara tak menentu.
Eratnya ikatan
kekerabatan pada masyarakat pedesaan menumbuhkan rasa kepedulian antara anggota
masyarakat yang satu dengan yang lain. Mereka saling melengkapi satu dengan
yang lain. Jika terdapat anggota masyarakat yang mengalami kesulitan maka anggota
masyarakat yang lain tak sungkan untuk membantu. Begitu juga jika terdapat
anggota masyarakat yang sedang mendapatkan kebahagiaan maka dia akan berbagi
kebahagian dengan anggota masyarakat yang lain, seperti berbagi makanan,
barang, dan lainnya. Oleh karena itu hubungan yang baik antar sesama manusia
pada masyarakat pedesaan –terutama masyarakat Jawa– sangatlah penting.Mereka
menjunjung tinggi konsep rukun, isin, dan urmat.Hingga
pada masyarakat Jawa terdapat pula semboyan “mangan ora mangan asal kumpul”.
Eratnya ikatan
kekerabatan pada masyarakat pedesaan yang memunculkan aktifitas saling tolong
menolong, menimbulkan adanya resiprositas yang secara sederhana adalah
pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok
6. UNSUR PERALATAN DAN TEKNOLOGI
Alat Tenun Bukan Mesin
(ATBM) merupakan alat untuk melakukan penenunan
yang ada di Pekalongan penenunan yang digerakkan oleh manusia. ATBM
dapat dipergunakan sambil duduk di lantai maupun di atas bangku (biasa pada
industri tekstil kecil dan tradisional).
ATBM yang digunakan dengan duduk dilantai (kiri); ATBM yang digunakan dengan duduk di bangku (kanan)
Pada tahun 1970 pemerintah memberi bantuan berupa Alat Tenun Mesin (ATM) yang tidak membutuhkan penenun akibatnya harga kain lebih murah. Para penenun dan pengusaha tenun ATBM pun kolaps karena tidak bisa menyaingi harga kain ATM. Oleh karena daya saing yang tinggi dengan kain ATM serta sedikitnya penghasil dan pengelola kain batik pekalongan khususnya, maka menjadi peluang untuk membuka usaha tersebut dan juga merupakan usaha untuk melestarikan kebudayaan yang sudah mulai dilupakan masyarakat.
ATBM yang digunakan dengan duduk dilantai (kiri); ATBM yang digunakan dengan duduk di bangku (kanan)
Pada tahun 1970 pemerintah memberi bantuan berupa Alat Tenun Mesin (ATM) yang tidak membutuhkan penenun akibatnya harga kain lebih murah. Para penenun dan pengusaha tenun ATBM pun kolaps karena tidak bisa menyaingi harga kain ATM. Oleh karena daya saing yang tinggi dengan kain ATM serta sedikitnya penghasil dan pengelola kain batik pekalongan khususnya, maka menjadi peluang untuk membuka usaha tersebut dan juga merupakan usaha untuk melestarikan kebudayaan yang sudah mulai dilupakan masyarakat.
7. UNSUR SISTEM PENGETAHUAN
Tingkat Pendidikan Masyarakat
pekalongan sudah dibilang baik dibuktikan dengan adanya beberapa sekolahan yang
memiliki fasilitas yang tergolong standar internasional. Kesadaran masyarakat Pekalongan akan
pendidikan juga sudah dapat dikatakan baik. Batik sebagai salah satu hasil
kesenian masyarakat pekalongan dikembangkan dengan kreasi masyarakat pekalongan
yang memiliki pengetahuan tentang industri kreatif sehingga memunculkan produk
yang inovatif dan dan memiliki daya saing Yang tinggi.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari
makalah ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa masyarakat pekalongan ini
adalah suku yang memang sangat kental dengan unsur budayanya, selain itu juga masyarakat
pekalongan terkenal dengan kuliner dan hasil budaya yang memang masih disimpan
baik di dalam masyarakat pekalongan tersebut.
3.2. Saran
Saran
yang dapat saya berikan adalah kita harus mengetahui bermacam-macam suku yang
ada di Indonesia bukan hanya masyarakat pekalongan tetapi masih banyak
suku-suku yang lainya. Mengenai masyarakat pekalongan sendiri kita harus bisa
lebih mengembangkan suku yang kita miliki dari sejak lahir, contohnya saja
dalam berbahasa, kita harus bisa menguasai bahasa dalam suku kita kalaupun
misalkan kita tidak bisa menggunakan bahasa itu dengan baik, kita harus bisa memahami
makna dan maksudnya sedikit saja.
DAFTAR
PUSTAKA

0 komentar:
Posting Komentar